Sejarah

Tepat di kaki sebuah bukit, ada sebuah bangunan sekolah kecil yang bernama Sekolah Dasar Bustanul Ulum Semen Padang. Walaupun kecil, sekolah itu terlihat apik, bersih dan asri. Sekolah kecil ini merupakan salah satu sekolah yang telah dinobatkan sebagai sekolah Adiwiyata Nasional Mandiri sejak tahun 2017 dan terakreditasi “A” pada tahun 2014.

SD Bustanul Ulum Semen Padang ini adalah sekolah yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak yang tinggal di desa Batu Busuk dan anak-anak kurang mampu yang berdomisili di wilayah Kecamatan Pauh dan Kuranji Kota Padang. Letaknya di daerah batu Busuk Kelurahan lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Nama Semen Padang yang melekat pada sekolah ini menandakan bahwa sekolah ini berada di bawah binaan PT. Semen Padang. Sekolah ini dibantu oleh dana Corporate Social Rerponsibility (CSR) PT. Semen Padang yang dikelola langsung oleh Yayasan Igasar Semen Padang.

Sebelum SD Bustanul Ulum ini berdiri, bangunan sekolah ini dulunya adalah sebuah pesantren. Didirikan sekitar tahun 70-an oleh wali kampung dan tokoh-tokoh masyarakat serta para pemuda. Salah seorang gurunya berasal dari Aceh bernama Tengku Saleh. Itulah sebabnya, beberapa siswa pesantren itu ada yang berasal dari daerah Aceh. Jauh-jauh mereka pergi belajar ke daerah Batu Busuk. Itu artinya pada waktu itu Batu Busuk sudah menjadi daerah tujuan pendidikan, terutama pendidikan agama.

Pesantren itu dikelola dan didibiayai oleh masyarakat. Pesantren itu kemudian dinamai dengan Pesantren Bustanul Ulum yang menerima siswa tingkat sekolah menengah. Pada awal berdirinya, pesantren ini cukup banyak siswanya, bahkan ada yang datang dari luar propinsi Sumatera Barat. Siswa yang datang dari aceh dibawa oleh tokoh pendirinya yang juga berasal dari aceh.

Sebagaimana sistem pendidikan pesantren, sekolah ini mengajarkan tentang ilmu-ilmu keislaman seperti, Bahasa Arab, tafsir, hadits, ulumul Qur’an, fiqih, tharikh dan aqidah akhlak. Kemudian para santrinya juga diasramakan dan dibimbing oleh para ustadz dan ustadzah. Dari pesantren ini banyak alumninya yang kemudian menjadi ustadz dan ulama. Diantaranya adalah Bapak Ustadz Mawardi Jamal. Beliau inilah yang kemudian melanjutkan tongkat estafet pendidikan di Batu Busuk.

Satu dekade pesantren Bustanul Ulum beroperasi, sampai akhirnya tiba pada saat kemundurannya. Menjelang tahun 1979, Pesantren Bustanul Ulum mengalami kekurangan siswa yang sangat signifikan. Sehingga sangat mempengaruhi kelanjutan proses belajar mengajar di pesantren tersebut. Sekolah itu terancam ditutup, karena pada akhirnya tidak ada lagi siswa yang mendaftar di pesantren tersebut. Jika sekolah ini tidak punya siswa lagi, maka terpaksa sekolah ini ditutup.

Disaat keadaan kritis seperti itu, Ustadz Mawardi Jamal, salah seorang alumni pesantren Bustanul Ulum yang juga mengajar di pesantren itu tampil sebagai penyelamat. Kalau di Batu Busuk ini tidak ada lagi sekolah, maka akan banyak anak-anak kita yang akhirnya putus sekolah. Akhirnya ustadz Mawardi Jamal dan beberapa tokoh Batu Busuk dan tokoh masyarakat Pauh waktu itu memperjuangkan agar sekolah itu tetap ada.

Akhirnya, Ustadz dan tokoh-tokoh masyarakat Batu Busuk menemui pihak PT. Semen Padang untuk meminta PT. Semen Padang mau mendanai sekolah tersebut. Setelah melalui beberapa kali pertemuan dengan pihak PT. Semen Padang, akhirnya PT. Semen Padang bersedia mendanai sekolah tersebut dengan dana sosial perusahaan. Hal ini sebagai tanggung jawab sosial PT. Semen Padang, dikarenakan di daerah Batu Busuk terdapat aset perusahaan yaitu PLTA Kuranji. PLTA Kuranji merupakan salah satu sumber energi untuk menghidupkan listrik pabrik semen di Indarung.

Maka sepakatlah masyarakat Batu Busuk dan Pihak PT. Semen Padang untuk kembali menghidupkan sekolah itu. Namun melihat kebutuhan masyarakat setempat bahwa, sekolah ini kemudian dijadikan Sekolah Dasar. Karena di Batu Busuk tidak ada SD yang terdekat. Waktu itu anak-anak yang sekolah SD, harus berjalan cukup jauh ke daerah lain, yaitu Koto Tuo. Maka berdasarkan kesepakatan, digantilah pesantren tingkat menengah tadi dengan sekolah dasar atau SD. PT. Semen Padang kemudian melimpahkan wewenang pengelolaan sekolah ini kepada Yayasan Igasar Semen Padang yang sebelumnya juga sudah mengelola sekolah-sekolah lain yang berada dibawah naungannya.

Dari tahun 1979 sampai dengan 1980 upaya mempersiapkan sekolah terus dilakukan. Sejak dirintis tahun 1979 banyak hal yang harus disiapkan. Baru pada tahun 1981 seluruh administrasi pendirian sekolah SD Bustanul Ulum dapat dituntaskan. Maka sejak 1981 dikeluarkanlah surat izin operasional dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan bertambahlah satu sekolah lagi yang dikelola oleh Yayasan Igasar. Sekolah itu kemudian diberi nama SD Bustanul Ulum Semen Padang. Segala biaya operasional sekolah itu didanai oleh CSR PT. Semen Padang. Anak-anak tidak dipungut biaya sepersenpun. Segala kegiatan belajar-mengajar di SD Bustanul Ulum akhirnya menjadi tanggung Yayasan Igasar Semen Padang. Maka ustadz Mawardi Jamal kemudian ditugaskan menjadi Kepala Sekolah pertama di SD Bustanul Ulum.

 Sementara guru-guru pada awalnya adalah beberapa alumni pesantren Bustanul Ulum dan ada juga beberapa orang dari masyarakat setempat. Bapak Ustadz Mawardi jamal sendiri memimpin SD Bustanul Ulum ini selama lebih kurang 8 tahun (1981 s.d 1989).

Pada tahun-tahun berikutnya, sekolah mulai berkembang dan beroperasi secara normal. Izin operasional dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu telah didapatkan. Di sana tercatat secara resmi bahwa SD Bustanul Ulum ini mulai beroperasi pada tahun 1981, walaupun sekolah ini sudah dirintis dan dikelola oleh yayasan Igasar Semen Padang sejak tahun 1979.

Setelah Bapak Ustadz Mawardi Jamal pensiun, maka yayasan Igasar Semen Padang menugaskan Bapak Syoekoer, N. sebagai kepala sekolah. Dimasa Bapak Syoekoer, N. menjabat, operasional sekolah telah berjalan normal. Setelah itu beberapa kali terjadi pergantian kepala sekolah sesuai perjalanan waktu dan situasi saat itu. Sampai sekarang sudah sembilan orang kepala sekolah yang telah memimpin SD Bustanul Ulum Semen Padang, diantaranya:

  1. Drs. Mawardi Jamal, menjabat dari tahun 1979 s.d tahun 1989
  2. Syoekoer, N, menjabat dari tahun 1989 s.d tahun 1994
  3. Dalius, menjabat dari tahun 1994 s.d tahun 1995
  4. DRS. Awisulkarni menjabat dari tahun 1995 s.d tahun 1999
  5. Marwan Bermawi, menjabat dari tahun 1999 s.d tahun 2006
  6. Drs. Ijal, menjabat dari tahun 2006 s.d tahun 2010
  7. Rismayetti, S.Pd, menjabat dari tahun 2010 s.d tahun 2014
  8. Bustami, S.Ag, MA, menjabat dari tahun 1914 s.d tahun 2018
  9. Efi Asmanto, S.Ag, menjabat dari tahun 2018 s.d sekarang.
error: Content is protected !!